- One-sided assesment
Emotional appeals
Argumentum ad hominem [abussive]
Ignoratio elenchi
Loaded words
Poisoning the well
The runaway train
Apriorism
Dicto simpliciter
Petitio principii
Secundum quid - One-sided assesment
- Analogical fallacy dan Circulus of probando
- Menurut saya, tahu adalah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.contoh:misal ada orang yang jago berbahasa ditanya ttg komputer,orang tersebut pasti tidak tahu terlalu banyak tentang komputer.
- Nyata adalah sesuatu yang bisa kita lihat,sentuh,dan benar-benar terjadi dalam kehidupan kita.
- Manusia sama-sama makan nasi.Terlihat sekilas manusia memang sama,sama-sama punya mata,hidung,mulut,kaki,tangan,dll.Tetapi manusia itu tidak sama.manusia dibedakan dari sifat mereka.kalau ditinjau lebih dalam lagi manusia juga bisa dibedakan dari besar kecilnya badan mereka.kalau di tinjau lebih mendalam lagi manusia dibedakan menurut jenis kelamin ada laki-laki.ada perempuan.
- Menurut saya, kita bisa menggunakan pernyataan yang menyerupai fallacy “blinding with science” sampai orang tersebut setuju, lalu menjelaskan kembali apa arti dari istilah-istilah yang kita gunakan, sehingga membuat orang tersebut tidak dapat menarik kembali kata-katanya.
Jawaban
Cobalah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dibawah ini:
- Ada seorang wanita yang belum menikah (sebut saja “X”) dia memiliki kosep kesetiaan seperti ini :
“Dia tidak mau makan berdua dengan pria lain selain pacarnya”
Saya berpendapat bahwa wanita ini berpikiran kotor, karena saya menganggap dia selalu menilai masalah seksual. Contoh: kenapa membedakan antara teman cowok dan cewek.
menurut saya dia berprasangka buruk pada temannya/menganggap bahwa temannya menginginkan sesuatu darinya.
Soal: Jabarkanlah Fallacy yang terdapat pada tuduhan tersebut! - Beberapa orang penganut seks bebas mengannggap pernikahan hanya sekedar legalitas untuk melakukan persetubuhan.
Soal: Apa fallacy yang digunakan pada pernyataan tersebut? - Berikut ini perbincangan 2 orang:
“Komik-komik buatan Indonesia saat ini dapat dikategorikan sebagai manga. Bukankah manga itu adalah komik Jepang? Kalau begitu komik Indonesia itu yang seperti apa?”
“Kalau pemain Indonesia menjuarai kejuaraan bulu tangkis, apakah pemain tersebut adalah pemain Inggris atau pemain Indonesia? (permainan bulu tangkis secara resmi diciptakan di inggris) jadi sama halnya dengan komik Indonesia…dst”
Soal: Apa fallacy yang digunakan pada jawaban atas pernyataan diatas? - Jelaskan tahu/mengetahui (know) itu apa?
- Jelaskan nyata itu apa?
- Berikan contoh reduksionisme yang pada awalnya terlihat sama, setelah diteliti ternyata berbeda, namun pada saat tertentu ternyata sama.
Contoh: Komputer apple dengan windows yang model lama. sekilas terlihat sama, namun ternyata cara kerja mesinnya berbeda jauh dan kembali sama setelah diteliti hingga tahap elektron. - Bagaimana caranya agar kita tidak kepala batu?
Model adalah perwakilan atau pengganti dari suatu benda yang biasanya tidak cocok dengan benda aslinya didunia nyata. Model dapat dikatakan benar bila tujuan dari model itu tercapai.
Tujuan dari model adalah :
- Prescription ( resep ) : membuat model dari sesuatu yang sudah ada
- prediction ( meramal ) : sebelum membuat sesuatu terlebih dahulu membuat modelnya
Kedua tujuan diatas biasanya dilakukan dengan sebuah simulasi. Simulasi adalah menganalisa tingkah laku model berdasarkan periode tertentu.
Validasi model adalah proses pencocokan model dengan tujuan model itu diadakan dan bila hasilnya tidak cocok maka model itu akan di remodel ( dimodelkan ulang ). Proses validasi model adalah sebagai berikut :
Real World–observation,meansurement–>Model–observation,meansurement–>Test—->Modify(if required)—->Model
Tipe-Tipe model :
Physical : benda yang kelihatan
- Iconic (bentuk mirip namun tidak dapat menggantikan fungsi yang sesungguhnya)
- Analog (bentuk tidak terlalu dipentingkan, yang penting memiliki sifat yang mirip)
Symbolic
- Verbal. Contoh : kartu
- Mathematical
Beberapa pembagian MODEL yang lain
- Analytic (menggunakan rumus yang telah ada untuk mendapatkan suatu hasil dari perhitungan. Contoh : dalam menghitung luas sebuah lingkaran, dapat digunakan rumus L=pi * r * r (r=jari-jari lingkaran))
- Numeric (Pencarian hasil dari suatu perhitungan dengan tidak menggunakan rumus yang telah ada, melainkan dengan cara lain yang lebih teliti. Contoh dalam pencarian luas suatu bangun tidak hanya dapat dilakukan dengan menggunakan rumus yang ada, tetapi juga dapat dicari dengan menghitung luasan di bawah kurva(integral))
- Deterministik (Sesuatu yang telah pasti)
- Probabilistik (Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi paa suatu kejadian)
- Static (ditandai dengan tidak adanya feedback.)
- Dynamic (ditandai dengan adanya feedback)
Fallacy jenis apa ini?
- Aku tidak lulus-lulus kuliah. Ah, andai aku dulu tidak masuk Infor. Ah, andai aku dulu konsentrasi ke musik. Orangtuaku sih mengatakan musik itu kurang menghasilkan uang. Itu gara-gara tidak ada pemusik di keluargaku….[teruskan, maka semua itu gara-gara seekor amuba membelah diri].
- Peramal itu hebat sekali! Sudah 3 kali ramalannya terbukti benar. [tapi 102 kali ramalannya salah]
- Dukun itu hebat sekali! Bisa meramal anak dalam kandungan cewek atau cowok.
50% ramalannya benar. [bila jenis kelamin itu ada 100 macam, maka 50% benar itu baru hebat]
Jawab:
- The slippery slope
- One-sided assessment
- The genetic fallacy
Dibagi menjadi 2 tipe:
1. Formal Fallacy
Formal fallacies diakibatkan salah menalar. Dari premis A menuju kesimpulan B ada langkah yang salah atau hilang. Terdapat 11 jenis Formal Fallacy:
- Affirming the consequent (Menyimpulkan sebab dari akibat)
>> Kita tidak bisa menyimpulkan sebab dari akibat, karena penyebab sesuatu bisa banyak macam.
Contoh: Kucing mati bila digigit landak gila, disini ada kucing mati, jadi ada landak gila di sekitar sini.
~ Penalaran tersebut salah karena kucing tersebut bisa saja mati karena disetrum, disembelih, dilindas mobil dlsb. - Conclusion which denies premises (Kesimpulan yang berlawanan dengan premis)
>> Bila ada 2 hal yang berlawanan, tidak mungkin keduanya benar.
Contoh: (perbincangan ayah dan anak)
“Nak, tidak ada yang pasti di dunia ini. Karena itu kita harus belajar dari pengalaman”
“Benarkah demikian, ayah?”
“Benar! Ayah yakin akan hal itu”
~ Pernyataan ini tentu saja salah, karena kita tau beberapa hal itu pasti. Contohnya hukum-hukum fisika, perhitungan matematika, dlsb. - Contradictory premises (Premis yang bertentangan)
>> Dua premis yg bertentangan tidak akan menghasilkan kesimpulan yang benar.
Contoh: Semua yang hidup bisa mati, Tuhan tidak bisa mati, jadi Tuhan tidak hidup .
~ Cara penalaran seperti ini salah, karena dalam kehidupan ini ada banyak pilihan, bukan hanya Ya atau Tidak, hidup atau mati, dll. - Denying the antecedent (Menentang sebab untuk membalikkan akibat)
>> Jika sebab ditentang, belum tentu akibatnya dapat berbalik.
Contoh: Bila aku makan terlalu banyak, aku akan sakit. Aku makan secukupnya, maka aku tidak akan sakit.
Peryataan ini salah karena penyakit memiliki banyak sumber. - Exclussive premisses (Menggunakan 2 premis negatif)
>>Dua premis negatif belum tentu memiliki hubungan satu sama lain.
Contoh: Tidak ada tukang kayu yang juga penjual roti, tidak ada penjual roti yang juga nelayan, jadi tidak ada tukang kayu yang juga nelayan.
~ Pernyataan diatas salah karena tetap ada kemungkinan bahwa ada tukang kayu yang juga nelayan. - Existential fallacy (Premis menyatakan ‘semua’, namun kesimpulan menyatakan ‘beberapa’, merayu orang percaya bahwa premis benar)
>> Sepertinya semua benar, Namun dengan pemakaian ‘beberapa’ di kesimpulan, maka kita dipaksa untuk membenarkan keberadaan barang yg disebut di premis. Pemakaian ‘beberapa’ berkesan ‘rendah hati’ dan memudahkan orang tergelincir untuk menganggap barang di premis ‘exist’.
Contoh: Semua mahluk gaib terpengaruh emosi manusia, tapi beberapa dari mereka lebih peka dari yang lain, dan cenderung bereaksi terhadap rasa takut dan benci.
~ Pernyataan diatas dapat dikatakan benar jika mahluk gaib itu benar-benar ’exist’ (ada). - False conversion (Membalik fakta yang mengandung ‘beberapa’)
>> Dengan membalik premis yang mengandung ’beberapa’, tentu saja tidak menjamin suatu pernyataan dapat dikatakan benar.
Contoh: Semua kelinci berkaki empat, semua yang berkaki empat adalah kelinci.
~ Pernyataan tersebut tentu saja salah, karena tidak semua hewan berkaki empat adalah kelinci. - Illicit process (Satu atribut kelompok ini dan itu sama, bukan berarti atribut yang lain juga sama)
Contoh: Orang-orang yang bersepeda adalah kaum yang hemat, kaum petani tidak ada yang bersepeda, kaum petani bukan kaum yang hemat.
~ Pernyataan tersebut tentu saja tidak benar. Karena alasan seseorang untuk tidak naik sepeda ada banyak, bukan hanya karena tidak hemat. - Positive conclusion, negative premise (Kesimpulan positif berdasar 2 premis dimana salah satunya adalah negatif)
Contoh: Beberapa kucing tidak bodoh, kucing adalah hewan, jadi beberapa hewan itu bodoh.
~ Pernyataan diatas bisa saja benar, namun cara penalarannya salah. Karena seharusnya kesimpulan yang dihasilkan berupa kalimat negatif. - Quaternio terminorum (Empat pernyataan)
Contoh: John di kanan Peter, Peter di kanan Paul, jadi John di kanan Paul.
~ Pernyataan diatas tidak dapat dikatakan benar karena cara penalaran yang digunakan tidak tepat. Karena bisa saja John, Peter, dan Paul berada dalam posisi melingkar sehingga John berada disebelah kiri Paul. - Undistributed middle (Ciri kelas diambil sebagian untuk menyamakan kedua kelas)
Contoh: Semua kuda berkaki empat, semua kambing berkaki empat, jadi semua kuda adalah kambing.
~ Penalaran diatas tentu saja salah, karena kita tidak bisa menyamakan 2 hal berbeda berdasarkan satu ciri umum.
2. Informal Fallacy
Informal fallacies menggunakan langkah yang benar untuk menuju kesimpulan, namun melibatkan hal yang tidak memuhi syarat (bahasa, arti ambigu dlsb). Secara umum Informal Fallacy dibagi menjadi 4 macam.
A. Linguistic fallacies (kesalahan dalam berbahasa)
Dibagi menjadi 6 bagian:
- Accent (Maksud suatu pernyataan tergantung konteks pembicaraan)
Contoh:
-> Nyalakan rokokmu! (silakan)
-> Nyalakan rokokmu! (jangan menyalakan taplak, gorden dlsb!)
-> Nyalakan rokokmu! (rokokmu sendiri! bukan rokok orang lain!)
-> Nyalakan rokokmu! (jangan dikunyah lalu ditelan!)
4 pernyataan tersebut sama, namun memiliki maksud yang berbeda-beda. - Amphiboly (Susunan kalimat yang ambigu)
Contoh: Aku bertemu sang raja naik kuda. Dia terengah-engah dan kehausan. Aku memberinya air. - Composition (Benar untuk setiap member, belum tentu benar untuk seluruh kelas)
Contoh: Kita tahu bahwa orang Indonesia suka menolong, karena itu seharusnya Indonesia harus lebih sering membantu perekonomian negara-negara lain yang kurang beruntung. - Division (Benar untuk keseluruhan belum tentu benar untuk setiap member)
Contoh: Orang yang peduli kebudayaan Jawa makin menghilang, si Tono adalah budayawan Jawa, sebentar lagi dia akan menghilang. - Equivocation (Menggunakan arti yang ambigu untuk mengakali)
Contoh: Kebahagiaan adalah tujuan akhir hidup. Kematian adalah akhir hidup. Jadi kematian adalah kebahagiaan. - Reification/hypostatization (Menganggap setiap kata memiliki eksistensi nyata)
Contoh: Dalam parfum SKYROS, kami menambahkan keceriaan musim semi yang akan membawa kebahagiaan surgawi ke sekitar anda.
B. Relevance – Ommision
Dibagi menjadi 18 bagian:
- Bogus dilemma (Seolah-olah hanya itulah pilihannya)
Contoh:
Jangan masuk dunia politik.
Bila kamu jujur, kamu akan dibenci orang.
Bila kamu bohong, kamu akan dibenci Tuhan.
Apapun yang kamu lakukan, pasti ada yang membencimu. - Concealed quantification (Pemberian atribut yang tidak jelas, apa ke seluruh kelas, atau beberapa anggotanya saja)
Contoh: Orang-orang atheist mengajar di universitas tersebut
~ Pernyataan tersebut tidak jelas apakah ada orang atheis yang mengajar di universitas tersebut atau semua pengajar di universitas tersebut adalah orang atheis. - Damning the alternatives (Seolah-olah satu pilihan benar karena pilihan yang lain salah)
Contoh: Silakan pilih caleg yang menurut anda layak, seorang koruptor, seorang pemerkosa, seorang penggelap pajak, atau saya.
~ Cara penalaran tersebut tidak benar karena mungkin benar caleg lain adalah koruptor, pemerkosa, dan penggelap pajak. Tapi bukan berarti si pembicara adalah malaikat. - Definitional retreat (Membela diri dari bantahan dengan mengubah definisi)
Contoh:
“Anda tidak punya pengalaman menghadapi teroris!”
“Tapi saya lulusan US-anti terrosist academy, dan pernah menggagalkan aksi teroris di Irlandia dan Siria”
“Maksudku, anda tidak paham tentang teroris Indonesia” - Extensional pruning (Membela diri dari bantahan dengan definisi tidak umum/ dengan arti literal)
Contoh: Lo, saya bilang saya datang jam 5. Sekarang jam 5.55, masih jam lima kan? - Argumentum ad ignoratiam (Menyalahkan atau membenarkan klaim atas tidak adanya bukti)
Contoh: Hantu itu ada. Sudah banyak riset yang menghabiskan jutaan dollar untuk membuktikan hantu itu khayalan semata, tapi tak ada riset tersebut yg berhasil.
~ Pernyataan tersebut tidak bisa diterima karena pernyataan awal (hantu itu ada) juga tidak bisa dibuktikan. - Argumentum ad lapidem (Kepala batu)
Contoh: Aku teman baik si Jono, dan aku tidak mau membahas hal yang buruk tentang dia.
~ Pernyataan seperti ini tidak bisa dilawan karena seseorang yang sudah berpegang teguh pada pendirian seperti ini tidak dapat akan menerima pernyataan apapun yang tidak sesuai dengan pendiriannya. - Argumentum ad nauseam (Menggunakan perulangan agar terlihat benar)
Contoh:
“Bukan aku yang menembak”
“Tapi pelurunya berasal dari pistolmu”
“Tapi, bukan aku yang menembak”
“Tapi kamu memegang pistol saat tertangkap”
“Tapi bukan aku yang menembak!” - One-sided assessment (Hanya melihat satu sisi masalah)
Contoh: Aku tidak akan menikah. Tanggungjawabnya besar, biaya pendidikan anak-anak juga berat, belum lagi masalah keluarga yang bisa mengakibatkan perceraian - Refuting the example (Menolak klaim dengan pernyataan yg bukan inti permasalahan)
Contoh: Siapa bilang perburuan ikan paus mengancam kelangsungan hidup mereka? Beberapa suku nelayan Indonesia secara tradisional berburu paus cuma 1-2 ekor per tahun
~ Pernyataan tersebut tidak dapat diterima karena inti permasalahan dalam kasus ini adalah perburuan ikan paus secara umum. - Shifting ground (Menyangkal dengan alasan bahwa klaim awal bukan seperti itu maksudnya)
Contoh: Memang, dulu aku bilang bahwa partai kita akan kuat setelah pemilu. Tapi ingat, kekuatan partai juga bisa berupa kekuatan persatuan kita dalam menghadapi masalah. Nah, dengan perolehan pemilih 5% ini kita…
Fallacy seperti ini bukan untuk mengubah pendapat, tapi sekedar alat untuk membela diri. - Shifting the burden of proof (Mengalihkan tanggung jawab atas bukti.)
# Ini adalah kasus khusus untuk argumentum ad ignorantiam.
Contoh: Kenapa kamu tidak percaya Tuhan? Apa bukti bahwa Tuhan tidak ada? - Special Pleading (Menuntut double standar)
Contoh: Mungkin bagi kebanyakan orang, hal ini adalah privasi. Namun kami wartawan, dan kami melakukan ini karena tuntutan masyarakat. - The straw man (Bila tidak bisa membantah, serang versi extremenya)
Contoh: Mana mungkin kita membela Partai Buruh? Beberapa kebijakan mereka persis dengan Uni Sovyet jaman dulu.
~ Pernyataan kedua digunakan agar pernyataan pertama terlihat benar. padahal mungkin partai ini, seperti partai lain punya beberapa kekurangan, namun menyamakan dengan Uni Sovyet membuat partai ini terlihat buruk. - The exception that proves the rule (Perkecualian yg malah digunakan utk membenarkan)
Contoh: Tidak ada penemuan di kedokteran yang didasari kebetulan. Memang penisilin ditemukan secara kebetulan, namun itu satu kasus di antara sejuta. - Trivial objections (Menyalahkan sesuatu yg jauh hubungannya, atau masalah-masalah sepele)
# Cara ini mirip straw man, fallacy ini menghindari menyerang permasalahan utama
Contoh: Saya menentang pembangunan jalan baru ini. Ini akan membuat semua peta kota ini usang. - Unaccepted enthymemes (Menggunakan enthymemes untuk argumen)
Enthymeme adalah argumen dimana satu tahapnya harus dipahami (bukan secara explisit dinyatakan).
Contoh: Bili pasti bodoh, seseorang harus bodoh agar lulus tes begituan.
~ Pernyataan tersebut di Indonesia, sering dibantah dengan ungkapan: “Hubungannya????” atau “Gak nyambung ah”. - Unobtainable perfection (Menyalahkan karena tidak sempurna)
Contoh: Kita harus menutup generator listrik bertenaga nuklir karena tidak sepenuhnya aman.
~ Pernyataan tersebut tidak dapat diterima karena alasan yang digunakan juga dapat digunakan untuk tenaga air, uap dan yg lain.
C. Relevance – Intrusion
Dibagi menjadi 19 bagian:
- Blinding with science (Menggunakan istilah ilmiah agar terlihat seolah benar)
Contoh: Kami menyimpulkan bahwa itu adalah tulang Gallus domesticus yag dikubur oleh Canis familiaris.
Gallus domesticus = Ayam
Canis familiaris = Anjing - Argumentum ad crumenam (Kebenaran ditentukan oleh uang)
Contoh: Pelanggan selalu benar. - Emotional appeals (Memanfaatkan emosi untuk mempengaruhi pendapat)
Contoh: Yang belum vegetarian mesti melihat film tentang pembantaian binatang di peternakan. - Every schoolboy knows (Membuat seseorang setuju dengan cara membuatnya merasa bodoh jika tidak setuju/lebih baik kamu setuju daripada dibilang bodoh)
Contoh: Anak SD saja tahu kalau robohnya jembatan itu diakibatkan kesalahan gravitasi. - The genetic fallacy (Menilai kebenaran argumen berdasar siapa sumbernya)
Contoh: Keputusan menggusur PKL itu berasal dari usulan para pemilik toko, jadi abaikan saja. - Argumentum ad hominem [abussive] (Menyerang orangnya, bukan pendapatnya)
Contoh: Dokter Jiyo berusaha meyakinkan kita akan bahaya fluoride. Tapi jangan lupa beberapa tahun lalu dia dikecam masyarakat karena mendukung aborsi. - Argumentum ad hominem [circumstancial] (Mempengaruhi pendapat dengan memanfaatkan posisi/kepentingan lawan)
Contoh: Sebagai pecinta seni tentunya anda tidak keberatan menyumbang Festival Budaya kali ini. - Ignoratio elenchi (Membenarkan satu pendapat karena berhasil membenarkan pendapat yg lain)
Contoh: Tidak mungkin dia mengorder pembunuhan ini, saat pembunuhan terjadi dia berada di luar negeri.
Pernyataan tersebut tidak dapat dibenarkan karena meskipun benar bahwa ”dia” berada di luar negeri, namun bukan berarti order pembunuhan tersebut tidak dapat dilakukan. Karena bisa saja order pembunuhan tersebut dilakukan sebelum ”dia” keluar negeri. Dengan kata lain, meskipun satu pernyataan benar pernyataan lainnya tidak dapat dibenarkan. - Irrelevant humour (Menggunakan lelucon mengalihkan perhatian)
Contoh: Apa sih yang anda ketahui tentang peternakan? Jumlah jari babi? - Argumentum ad lazarum (Orang miskin tidak selalu lebih baik daripada orang kaya)
Contoh: Pendapat bijaksana dari seorang tukang kayu yang jujur dan sederhana.
~ Kalau pendapatnya tentang cara membuat mebel, terimalah, tapi tentang hal lain? - Loaded words (Mempengaruhi pendapat dengan kata-kata heboh penuh prasangka)
Contoh: Tentara Israel bertahan terhadap serangan teroris Palestina.
~ Pendapat di atas terasa seolah-olah tentara Palestina adalah pihak antagonis - Argumentum ad misericordiam (Mempengaruhi pendapat berdasar kasihan)
Contoh: Sebelum menentukan dia bersalah atau tidak, coba bayangkan bila anda yang dipenjara, direnggut kebebasan anda, dipisahkan dari keluarga.
~ Pendapat di atas tidak dapat diterima karena tidak ada hubungannya antara keadilan dengan rasa kasihan. - Poisoning the well (Menyerang sebelum lawan memberikan argumennya)
Contoh: Tentu saja ada orang-orang yang kurang bijaksana yang lebih memilih bis daripada kereta api.
~ Pendapat diatas dibuat agar kita merasa bahwa seolah-olah kereta api jauh lebih baik dari pada bis sebelum adanya pernyataan tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh bis. - The red herring (Memberi fakta lain yg tidak berhubungan dan membuat kesimpulan tak tercapai)
Contoh:
“Pedagang kaki lima mulai mengganggu lalu lintas”
“Bukankah masalah banjir lumpur lebih gawat? Kenapa memikirkan hal-hal sepele?”
~ Pernyataan diatas membuat kesimpulan tidak tercapai, padahal tidak ada hubungannya antara ”lalu lintas” dan ”banjir lumpur”. - The runaway train (Membawa argumen ke hal-hal yg jauh)
Biasanya mencari pembenaran pada hal-hal yang umum kemudian dilanjutkan ke hal-hal khsusus & pribadi yang menyangkut dirinya.
Fallacy ini juga mencoba mebenarkan hal-hal yg tidak masuk akal berdasar prinsip yang sama.
Contoh: Mestinya pemerintah mensubsidi kegiatan kebudayaan. Misalnya gedung teater ini. Sebab berat mementaskan pertunjukan berkelas tanpa bantuan dana dari publik. - The slippery slope (Menganggap satu tahap pasti diikuti tahap-tahap berikutnya)
Contoh: Saya tidak setuju menurunkan batas usia konsumsi alkohol dari 21 tahun menjadi 18 tahun, karena sesudah itu pasti ada yang ingin menurunkan menjadi 16 tahun. Lalu 14 tahun. Lalu 12 tahun. Dan bila itu berlanjut, maka bayi akan disusui whiskey . - Tu quoque (Menentang pendapat dengan menyalahkan lawan bahwa dia juga demikian)
Contoh: Bagaimana kita bisa setuju usul pak Komprang tentang pungutan sampah, padahal dia sendiri suka buang sampah sembarangan. - Argumentum ad verecundiam (Menggunakan autoritas palsu)
Contoh: Darwinpun di saat ajalnya mengakui bahwa teori evolusi itu salah
Pernyataan tersebut tidak sah karena tidak ada bukti yang menyatakan bahwa Darwin yang berpendapat demikian adalah Darwin yang menemukan teori evolusi. - Wishful thinking (Menentang/menyetujui pendapat berdasar keinginan kita)
Contoh: Bank pasti memberikan kelonggaran, kita tidak bisa survive tanpa perpanjangan waktu penagihan.
Pernyataan tersebut tidak benar karena seperti yang kita tahu bahwa Bank tidak peduli kalian survive atau tidak.
D. Relevance – Presumption
Dibagi menjadi 18 bagian:
- Abussive analogy (Menggunakan analogi yg melecehkan)
# Ini adalah kasus khusus dari arumentum ad hominem
Contoh: Kok bisa-bisanya dia mengusulkan koneksi Speedy, la tampangnya saat menghadapi komputer seperti orang Indian dinaikkan roket.
~ Pernyataan tersebut mempengaruhi pendapat kita agar tidak mengikuti saran dari ”dia”. Padahal tidak ada hubungannya antara ”dia” menguasai komputer atau tidak dengan koneksi Speedy. - Accident (Perkecualian dianggap pembenaran)
Contoh: Kita tidak harus mengembalikan pinjaman. Misalnya, kita pinjam pistol dari orang gila. Apa bijaksana bila kita mengembalikannya? - Analogical fallacy (Menggunakan analogi yang tidak tepat)
Contoh: Bayi itu seperti cuaca, tidak bisa ditebak apa maunya
~ Pernyataan tersebut salah karena cuaca bisa diprediksi berdasarkan gejala alam yang terjadi. Dengan kata lain, perumpamaan yang digunakan kurang tepat. - Argumentum ad antiquam (Menganggap bagus karena kuno)
Contoh: Kakek buyutmu tidak butuh mobil. Kakekmu tidak butuh mobil. Ayah tidak butuh mobil. Kenapa sekarang kamu minta dibelikan mobil?
~ Pernyataan tersebut tidak tepat karena sesuatu yang lama terkadang harus berubah. - Apriorism (Merasa sudah tahu padahal belum dipastikan kebenarannya. (Sok tahu lebih dulu))
Contoh: Tidak mungkin orang memelihara kelinci di rumah, jadi hewan berkuping panjang di bawah sofa itu pasti anjing yang sedang menyamar.
Pernyataan tersebut salah karena bisa saja bahwa yang berada dibawah sofa itu adalah seekor kelinci. - Bifurcation (Membatasi cuma 2 pilihan)
Contoh: Merdeka atau mati!
~ Pernyataan diatas tidak tepat, karena pilihan yang ada bukan hanya itu. - Circulus of probando (Logika berputar-putar)
Contoh:
“Aku tidak mencuri pak. Anakku akan jadi saksi.”
“Bagaimana aku bisa percaya pada anakmu?”
“Aku menjamin kejujuranya, pak”
~ Pernyataan tersebut tidak dapat diterima karena alasan yang digunakan hanya berputar-putar dan tidak membuktikan apapun. - Complex questions (plurium interrogationum) (Menggabung beberapa pertanyaan sehingga tidak bisa sekedar dijawab Ya atau Tidak)
Contoh: Apakah kebodohanmu itu genetik?
~ Pernyataan tersebut jika dijawab ”Ya” atau ”Tidak” akan membuktikan bahwa anda adalah orang bodoh. - Cum hoc ergo propter hoc (Sesuatu yg terjadi bersamaan seolah berhubungan)
Contoh: Sepasang suami istri di kereta membeli pisang (mereka tidak pernah tahu pisang). Suami mencoba memakan pisang tsb. Saat itu kereta memasuki terowongan. Suami berteriak “Istriku, jangan memakan buah itu. Buah itu menyebabkan kebutaan!”
~ Pernyataan sang ”Suami” diatas tidak dapat dibenarkan karena saat dia mencoba makan pisang kereta tersebut secara kebetulan memasuki terowongan sehingga semua menjadi gelap dan membuat dia merasa bahwa makan pisang menyebabkan kebutaan. Dan kita tahu bahwa peristiwa sang ”Suami” yang makan pisang dengan kereta yang memasuki terowongan itu tidak ada hubungannya dan hanya sekedar kebetulan semata. - Dicto simpliciter (Generalisasi berlebihan)
Contoh: Tentu saja anda harus memilih saya, anda kan guru, jumlah pemilih saya yang guru mencapai 100 ribu orang lebih!
~ Pernyataan tersebut tidak dapat dijadikan alasan yang valid karena tidak ada hubungannya antara siapa yang akan dipilih dengan pemilih lain yang sesama guru. - Ex-post-facto statistics(Menganggap hebat sesuatu kebetulan setelah hal itu terjadi)
Contoh: Betapa beruntungnya kita punya bumi, suhunya cocok untuk manusia hidup.
~ Penalaran tersebut salah karena mahluk planet lain yang hidup dengan suhu 200 derajat akan merasa sama beruntungnya dengan kita. - The gambler’s fallacy (Kesalahan memahami peluang hal yg berurutan)
Contoh: Sudah 10 kali aku salah menebak koin. Kali ini pasti benar.
~ Penalaran tersebut salah karena peluang tidak memiliki pattern. - Non-anticipation (Kalau memang demikian, tentu sudah sejak dulu ada tindakan)
Contoh: Andai tembakau itu memang jelek, tentu sejak jaman dulu orang melarangnya. - Argumentum ad novitam (Menganggap yg baru itu lebih benar)
# Kebalikan dari argumentum ad antiquam.
Contoh: Haruskah kita melawan kemajuan?
~ Penyataan tersebut tidak dapat diterima karena kata “kemajuan” itu sendiri belum jelas apakah akan kearah yang lebih baik atau malah lebih buruk. - Petitio principii (Membuat argument yg berisi kesimpulan yg kita inginkan)
# Dikenal juga sebagai begging question fallacy.
Contoh: Tentu saja demi keadilan gaji kita harus dinaikkan, sebab memang para karyawan harus dinaikkan gajinya.
~ Pernyataan diatas dibuat agar keinginannya terpenuhi, namun cara penalarannya tidak benar karena tidak ada hubungannya antara keadilan dengan kenaikan gaji. - Post hoc ergo propter hoc (Kejadian yg berurutan dianggap berhubungan)
Contoh: Bila belalang diputus kakinya, dia tidak bisa melompat. Itu bukti bahwa telinga belalang terletak di kaki.
~ Penalarannya tidak benar, karena belalang tersebut tidak akan bisa melompat jika kakinya tidak ada. Meskipun memang benar bahwa telinga belalang berada pada kakinya. - Secundum quid (Generalisasi yg terlalu cepat)
Contoh: Saya pernah mampir di Kanada 2 hari. Wah, orang disana itu ramah-ramah dan baik.
~ Penalaran tersebut tidak dapat dibenarkan karena tidak mungkin kita bisa menilai seluruh orang Kanada hanya dalam 2 hari. - Argumentum ad temperantiam (Menganggap jalan tengah selalu yang terbaik)
Contoh: Ada yg mengusulkan kenaikan gaji 10%, ada yang menentangnya. Bagaimana kalau kenaikan gaji itu 5% saja?
~ Penalaran dengan cara itu salah karena tidak menyelesaikan permasalahan. Kesimpulan yang diambil tidak bisa berdasarkan jalan tengah, harus berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang lebih masuk akal.
Fuzzy Logic
Peningkatan dari logika boolean yang memiliki nilai kebenaran sebagian berdasarkan pada alasan yang digunakan. Misal suhu pada es batu yang dipanaskan, suhu es batu tersebut tidak akan selamanya dikatakan dingin, karena suhunya terus bertambah dan es batu tersebut terus meleleh dan menjadi air dan pada akhirnya menjadi uap. Dalam proses ini es batu tersebut tidak dapat dikatakan 100% panas atau 100% dingin. Ada saatnya dimana es batu tersebut telah mencair dan menjadi hangat lalu akhirnya menjadi panas. Dan pada saat inilah Fuzzy Logic digunakan, karena expresi boolean tidak dapat digunakan.
Genetic Algorithm
Genetic Algorithm/Algoritma Genetik adalah teknik pencarian yang ada dalam ilmu komputer untuk menemukan suatu penyelesaian perkiraan dengan optimalisasi atau masalah pencarian. Genetic Algorithm adalah kelas khusus dari Evolutionary Algorithm/Algoritma Evolusioner dengan menggunakan teknik yang terinspirasi oleh evolusi dalam biologi seperti warisan, mutasi, seleksi alam, dan rekombinasi/crossover.
Lihat sumber yang lebih lengkap tentang Fuzzy Logic dan Genetic Algorithm
Matematika
1. Awal Matematika
- Ordination : Pengurutan / Order. Merupakan awal mula matematika dimana manusia belum mengenal angka. Pada masa ini manusia sudah bisa mengurutkan ( misalnya : mulai benda dari yang paling besar ke benda yang paling kecil, mulai dari jumlah yang paling banyak hingga yang paling sedikit )
- Cardination : Pencocokan / Matching. Pada masa ini manusia mulai menggunakan benda-benda yang ada disekitarnya sebagai alat penghitung dengan cara membandingkan jumlah benda yang akan dihitung dengan jumlah benda yang lebih mudah dihitung sebagai alat bantu menghitung. Hal ini terus berkembang hingga pada akhirnya ditemukan simbol-simbol sebagai asal mula angka
- Numerik Symbolization : Mulai muncul simbol- simbol angka yang digunakan hingga sekarang. Simbol angka yang umum digunakan adalah angka berbasis 10, berbasis 2 dan berbasis 16. Namun masih banyak lagi simbol-simbol yang melambangkan angka berbasis n.
Simbol angka yang pertama kali muncul disebut Calculi yang dilambangkan dengan menggunakan Stylus dimana Calculi tidak menggunakan angka 0.
Pada zaman Babylonia, masyarakat babylon menggunakan simbol angka berbasis 60 yang merupakan simbol angka dengan basis terbanyak
2. Pentingnya Digit 0
- Angka 0 digunakan untuk membantu suatu perhitungan matematika. Dengan adanya Digit 0 ini, perhitungan matematika lebih mudah untuk disimbolkan
3. Bilangan Real
- Rasional adalah bilangan yang dapat dibandingkan dan mempunyai sifat cyclic. Misal 1/7,7/11, dst…
- Irasional adalah bilangan yang tidak dapat dibandingkan. Misal Pi, akar pangkat dst…..
- Jumlah perbandingan bilangan rasional : irasional = 0% : 100%. dalam arti bilangan rasional sangat kecil kemungkinan terjadinya dari pada bilangan irasional karena bilangan yang bersifat cyclic sangat jarang terjadi dari pada bilangan yang tidak cyclic
4. Bilangan rasional
- ciri : Suatu saat akan cyclic ( dalam arti membentuk suatu pola )
- 41/333 = 0.123123123….. (<- membentuk suatu pola dalam arti Cyclic)
- bilangan 0.99999…. =1 (<- dengan menggunakan limit )
Setelah orang puas dengan bilangan Real, muncul bilangan-bilangan baru yakni bilangan imaginer dan konsep tak berhingga
Beberapa paradox yang merupakan awal mula ditemukannya Perhitungan Kalkulus :
- Zeno Paradox
- Tortoise and Hare Paradox
Statistik (bagian 1)
Membandingkan peluang-peluang (ingat : statistik juga mempelajari peluang) dengan menggunakan angka dalam matematika untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Baca : Omniscience Paradox, Bodhisattva Paradox, Devil’s Offer, Pascal’s Wager
- Hipotesa : Kesimpulan awal sebelum melakukan pengujian dilakukan (dasar dari suatu pengujian)
- Teori : Hasil dari suatu analisa yang menjelaskan fakta-fakta tertentu yang belum/tidak dapat diuji
- Hukum : Suatu teori yang tidak dapat dibantah lagi, karena telah dibuktikan kebenarannya
- Aksioma / Postulat : Pernyataan yang dianggap sudah benar tanpa perlu dilakukan pembuktian walaupun dalam kondisi tertentu penyataan tersebut salah.
- Prinsip : Sesuatu pengetahuan yang menjadi dasar bagi pengetahuan lainnya
- Asumsi : Pernyataan yang benar menurut bukti empiris, dan digunakan untuk membuat deduksi atau induksi berikutnya. (Dasar suatu hipotesa)
SARANA BERPIKIR ILMIAH
Adapun sarana berpikir ilmiah meliputi hal-hal dibawah ini :
- Bahasa
- Matematika / Deduksi
- Probabilitas / Induksi
Dimana dalam prakteknya 3 hal diatas memerlukan model dimana model merupakan suatu simbol yang mewakili keadaan / benda yang lain.
Ilmu adalah pengetahuan yang telah melalui pengujian dan dapat dibuktikan kebenarannya.
Pengetahuan adalah sesuatu yang kita ketahui dan dapat membantu kita untuk terus bertahan hidup.
Metode merupakan cara untuk mengetahui suatu hal melalui langkah-langkah yang sistematis.
Metodologi adalah ilmu yang mempelajari tentang metode dan bagaimana cara penggunaan metode tersebut.
Metode Ilmiah merupakan suatu cara untuk mengetahui sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang ilmiah (rasional atau teruji) sehingga pengetahuan tersebut dapat diandalkan.
Tahap-tahap pengembangan ilmu pengetahuan.
- Mistis : Pada zaman ini manusia tidak dapat menjelaskan apa-apa dan percaya bahwa gejala alam yang terjadi adalah suatu kuasa mistis yang tidak dapat dilawan. Sehingga banyak orang yang menjadi korban untuk menghentikan suatu bencana yang belum jelas asal-usulnya.
- Ontologis : Pada masa ini manusia sudah dapat menjelaskan beberapa peristiwa yang terjadi. Namun, pada masa ini manusia belum berkembang.
- Fungsional : Masa ini adalah masa yang terjadi sejak revolusi industri sampai sekarang. Pada masa ini manusia sudah dapat menjelaskan dan terus mengembangkan ilmu pengetahuan berdasarkan ilmu pengetahuan yang sudah ada lebih dulu.
Perkembangan ilmu pengetahuan mengikuti deret exponensial . Hal tersebut dapat dilihat dari fakta bahwa pada zaman dulu perkembangan suatu ilmu pengetahuan begitu lambat. Namun pada zaman sekarang perkembangan ilmu pengetahuan begitu pesat bahkan hampir setiap minggu ada ilmu beru yang ditemukan.
Pola yang umum digunakan sampai saat ini adalah:
Deduksi : menyusun ilmu baru berdasarkan pada ilmu yang sudah ada sebelumnya
Induksi : menyusun suatu kesimpulan berdasarkan pada pattern/pola yang sudah ada
Pembentukan teori :
Suatu teori dapat terbentuk bila ada data (dapat berupa pola) dan ada penjelasan mengapa pola tersebut bisa seperti itu.
Syarat sebuah teori :
- Konsisten dengan teori sebelumnya (tidak akan berubah walaupun diuji berkali-kali)
- Harus cocok dengan fakta-fakta empiris (fakta umum yang tidak dapat dibantah)
Sebelum ada pembuktian empiris, suatu penjelasan disebut hipotesa.
Langkah-langkah pembentukan teori :
- Perumusan masalah (tidak boleh terlalu luas cakupannya)
- Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis
- Perumusan hipotesis (penjelasan yang belum diuji)
- Pengujian hipotesis
- Penarikan kesimpulan
Ontologi : Hakikat/dasar dari suatu kajian pengetahuan
Salah satu cabang utama dari metafisika (ilmu yang mempelajari suatu keberadaan atau realitas) yang membahas soal keberadaan suatu benda di dunia. Ilmu ini menjadi dasar dari setiap ilmu pengetahuan yang akan dan telah dipelajari manusia. Yang pada dasarnya bersumber pada alam atau sesuatu yang berada di alam dan ingin ditelusuri lebih lanjut oleh manusia.
Epistemologi : membahas bagaimana/cara mendapatkan pengetahuan
Cara membahas suatu ilmu mengetahuan dapat melalui hal-hal berikut ini :
- Apakah pengetahuan itu?
- Bagaimana pengetahuan itu kita dapat?
- Apakah orang lain tahu ?
- Bagaimana kita tahu tentang apa yang kita ketahui?
- Mengapa kita bisa mengetahui hal itu?
Aksiologi : Nilai dari suatu ilmu
Membahas tentang nilai dari suatu pengetahuan yang telah kita dapatkan. Nilai-nilai tersebut meliputi:
- Nilai guna (Bagaimana kegunaan dari suatu ilmu pengetahuan)
- Etika (Apakan nilai tersebut baik bagi kita dan orang lain)
- Estetika (Bagaimana kita menilai suatu pengetahuan berdasarkan apa yang kita tangkap dengan indra kita)
Dalam Hal ini, nilai Aksiologi bersifat sangat subjectif dan relatif karena nilai itu akan berubah bergantung pada penilaian dan cara pandang kita dan masyarakat. Hal ini disebabkan karena cara pandang tiap orang sangat berbeda-beda.